Formalisme dalam Seni – Signifikansi Bentuk

Formalisme – Konsep dan Sejarah

Sejarawan seni yang berbeda memberikan pujian kepada seniman dan kritikus yang berbeda untuk mengusulkan konsep Formalisme. Filsuf Yunani, Plato (428 SM-348 SM) membuat referensi tentang 'edios' (bentuk) dalam Teori Bentuk atau Ide-ide-nya. Menurutnya, mata manusia dapat melihat objek sebagai bentuk fundamental, dimodifikasi oleh pluralitas keberadaannya. Misalnya, warna merah adalah bentuk, yang bisa ada dalam berbagai nada dan nuansa. Kami tidak melihat masing-masing varian ini sebagai faktor yang berbeda, melainkan sebagai satu warna (faktor) dalam pengaturan yang berbeda. Sekitar akhir abad kesembilan belas, penulis dan pelukis Perancis, Maurice Denis (1870-1943) berpendapat dalam artikelnya 'Definisi Neo-Tradisionalisme' bahwa aspek visual dari suatu karya seni lebih signifikan daripada temanya. Pelukis dan kritikus Inggris Roger Eliot Fry (1866-1934) dan kritikus seni Inggris Arthur Clive Heward Bell (1881-1964) mengambil gagasan tersebut. Selama awal abad ke-20, duo ini mengumumkan perbedaan sensoris antara 'bentuk signifikan' (struktur dan pengaturan) dan faktor representasional dalam sebuah karya seni, memberikan prioritas kepada yang pertama.

Gaya dan Pengaruh

Formalisme menekankan pada gaya eksekusi, seperti sapuan kuas, kombinasi warna, garis, cahaya, dan aspek struktural lainnya. Akibatnya, karya-karya tersebut diukur dalam hal dampak perseptual mereka, bukan kekuatan sentimental mereka. Genre seni abstrak Impresionisme dan Post-Impresionisme (khususnya karya-karya Paul Cézanne) adalah pengaruh signifikan pada perkembangan Formalisme.

The Artists and the Artworks

Salah satu karya paling menonjol dalam Formalisme berasal dari pelukis Jerman Josef Albers (1888-1976). Serial yang sangat terkenal 'Homage to the Square' (1965) ini terdiri dari lebih dari seribu lukisan yang dibuat selama periode dua puluh lima tahun, dimulai tahun 1949. Ia terkenal dengan nama piring seri ini untuk warna, 'di mana garis-garis yang dilapiskan dalam warna yang berbeda menciptakan daya tarik Formalis yang diinginkan. Albers tidak berusaha untuk merepresentasikan setiap tersembunyi emosional, tema yang pasti, atau alur cerita dalam seri ini. Fokus di sini adalah untuk menciptakan tanggapan optik yang berbeda untuk bentuk fundamental (persegi) dalam berbagai situasi (kombinasi warna). Sebagai contoh, beberapa lukisan mungkin tampak cerah dan optimis, sementara yang lain mungkin tampak suram. Pelukis Belanda Piet Mondrian (1872-1944) mengembangkan gaya baru Formalisme yang dikenal sebagai 'Neo-Plasticism.' Dia melukis varian kanvas minyak dari grid hitam tebal sebagian dicat dalam tiga warna utama yaitu, merah, biru, dan kuning. Contoh gaya ini termasuk 'Komposisi II dalam Merah, Biru, dan Kuning' (1930), 'Komposisi dengan Kuning, Biru, dan Merah' (1937-42), dan 'Komposisi 10' (1939-42).

Kesimpulan

Formalisme terus mendefinisikan lanskap Modern Art hingga tahun 1960-an. Sebagian besar gaya dan seniman abstrak telah mendukung dimensi dalam satu bentuk atau yang lain. Genre, seperti Strukturalisme, Konstruktivisme, lukisan lapangan Warna, dan Abstraksi Geometrik telah berada di garis terdepan. Oleh karena itu, Formalisme dianggap sebagai faktor paling signifikan yang mengarah pada transisi dari Seni Representatif tradisional ke Seni Modern.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *